Oleh: Farin's mum | Desember 6, 2012

GUA PINDUL: A HIDING TREASURE IN GUNUNG KIDUL

Hujan rintik-rintik menyambut kedatangan kami sore itu di desa Bejiharjo, Karangmojo kabupaten Gunung Kidul. Meskipun cuaca kurang mendukung, jumlah pengunjung yang datang sore itu terlihat cukup banyak; terlihat dari banyaknya kendaraan yang sedang parkir di lokasi wisata. Hal ini membuat saya makin penasaran seperti apakah goa Pindul itu, yang menurut pemandu travel kami seperti Grand Canyon di Amerika.
IMG00472-20121202-1458Sebelum menuju ke lokasi goa, kita diharuskan memakai pelampung yang sudah disediakan. Pelampung ini adalah salah satu alat keselamatan yang wajib dipakai oleh pengunjung yang akan menyusuri goa pindul. Menurut pemandu kami, kedalaman air di dalam goa bervariasi dengan kedalaman maksimum mencapai sekitar 10 meter. 

IMG00474-20121202-1503Untuk menuju goa yang jaraknya sekitar 100 meter dari tempat transit, kami berjalan tanpa alas kaki. Jalan masuk ke lokasi goa belum di aspal dan banyak terdapat batu-batu kerikil. Bagi yang tidak terbiasa berjalan tanpa alas kaki, pengalaman ini seperti pijat refleksi kaki. Semoga pijatan ini bisa menambah sehat badan saya. Perjalanan menuju goa disuguhi suasana pedesaan yang kental, melewati daerah persawahan dan kebun. Sebelum tiba di goa, setiap peserta diberi ban dalam yang telah dipompa yang berfungsi sebagai tempat duduk / berbaring selama menyusuri goa. Menyusuri goa menggunakan ban dalam ini sering disebut juga cave tubing. Ban-ban itu terdiri dari 2 ukuran, ban yang besar untuk dewasa dan yang kecil untuk anak-anak. Ya, karena arusnya tidak deras maka goa Pindul ini aman untuk pemula maupun anak-anak. Meskipun jarak yang ditempuh tidak terlalu jauh, namun dengan beban berat membawa ban dan kaki yang tanpa alas kaki membuat saya sedikit repot berjalan. Untungnya, sang pemandu menawarkan diri untuk membantu membawakan ban itu hingga ke lokasi. 

IMG00476-20121202-1505

Sebelum masuk ke goa, ada penjelasan singkat dari pemandu kami mengenai apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama di dalam goa. Diantaranya adalah tidak diperbolehkan merusak stalaktit dan stalakmit, membunuh binatang di dalam goa, dan membuang sampah di dalam goa. Setelah menaruh ban diatas air, kita dibantu pemandu untuk naik keatas ban. Yup, kita menikmati goa Pindul sambil duduk santai diatas ban. Satu hal yang membuat saya merasa tidak nyaman adalah bokong kita menyentuh dinginnya air selama perjalanan. Setelah naik keatas ban, seluruh peserta diminta untuk saling memegang tali yang berada di kanan dan kiri ban peserta yang lain. Sebelum memulai petualangan di dalam goa, kami berdoa terlebih dahulu. Saya teringat lagu anak-anak yang berburu beruang (bear) di dalam goa. Ini lirik lagunya…
We’re going on a bear hunt, we’re going to catch the big one…
We’re not scared, we’re not scared ..
We can’t go over it, we cant’ go under it, we have to go through it!

IMG00479-20121202-1512Petualangan menyusuri goa selama kurang lebih 45 menit ini pun dimulai, sang pemandu menarik tali ban rombongan peserta masuk ke dalam gua. Zona pertama yang dilalui tidak terlalu gelap, karena cahaya matahari masih bisa menembus kedalam goa. Zona ini biasa disebut zona remang-remang. Terlihat cukup banyak kelelawar yang bergelantungan diatas goa. Jarak permukaan air dengan atap goa kurang lebih 4 meter. Beberapa stalagtit masih aktif pertumbuhannya. Tetesan air dari stalagtit yang jatuh membasahi tubuh, menambah kesadaran saya bahwa saya benar- benar berada didalam gua saat itu. Semakin kedalam goa suasana semakin gelap, cahaya matahari semakin berkurang. Dan inilah zona gelap/kegelapan abadi. Penerangan hanya berasal dari lampu yang dipakai pemandu dikepalanya. Perjalanan berhenti selama beberapa saat, menurut pemandu di tempat inilah banyak orang yang meyakini bahwa permintaan kita akan dikabulkan. Ada orang yang meminta jodoh bagi yang belum menikah, ataupun ada yang meminta sukses dalam karir atau kuliah. Sang pemandu menghentikan ucapannya. Suasana hening semakin terasa mencekam dikegelapan.

Sebenarnya saya bukanlah orang yang takut dengan kegelapan, tapi informasi yang disampaikan pemandu membuat jantung saya berdetak lebih cepat. Entahlah, apa yang sedang dipikirkan peserta lain. Yang pasti, yang saya inginkan hanyalah cepat-cepat keluar dari tempat ini. 
Setelah terdiam beberapa menit, pemandu pun menarik kembali rombongan peserta. Perjalanan pun dilanjutkan kembali. Semakin lama tampak ada sedikit cahaya yang masuk ke goa. Hati saya sedikit lega, berarti perjalanan ditempat gelap ini akan segera berakhir.

Menuju ke zona terang, kadang-kadang perjalanan melewati tempat yang sempit yang hanya bisa dilalui satu persatu. Ada juga stalagtit yang panjangnya hampir menyentuh ke air. Sehingga, apabila kita tidak waspada bisa tertabrak stalagtit itu. Akhirnya tiba juga di zona terang. Hawa kehidupan mulai terasa. Pemandangan disini luar biasa indahnya, cahaya matahari bisa langsung masuk ke goa yang  berlubang diatasnya. Keindahan ini sulit diungkapkan dengan kata-kata. Hanya satu yang saya rasakan. Saya benar- benar mengagumi ciptaan Tuhan yang Maha Kuasa. Sayang sekali saya tidak bisa mengambil fotonya, karena tangan saya yang harus memegang tali di kanan dan kiri ban. 

IMG00486-20121202-1537Akhirnya, berakhirlah petualangan di goa Pindul ini. Kami kembali ketempat semula, menyusuri jalan yang berbatu kerikil dibawah siraman air hujan yang menyejukkan. Kamar mandi adalah tujuan utama kami. Tidak perlu mengantri lama, karena sudah banyak tersedia kamar mandi milik penduduk. Sepertinya mereka sengaja membuat kamar mandi untuk disewakan. Dengan hanya membayar Rp 2000 saja, kita bisa membersihkan diri di kamar mandi yang terjaga kebersihannya. Dengan adanya goa Pindul yang dijadikan objek wisata, secara tidak langsung memberikan ladang bisnis bagi warga setempat. Selain menyewakan kamar mandi, ada juga yang menyewakan teras rumahnya untuk beristirahat sekedar tidur-tiduran untuk melemaskan otot-otot setelah mengarungi goa. Selain itu ada juga yang berjualan perlengkapan mandi, sandal, kaos souvenir dll. Aneka makanan juga dijual disana, diantaranya bakso, mie ayam, soto dll. Semangkok bakso dan segelas teh hangat mengakhiri petualangan kami di goa Pindul.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: