Salah satu alternatif liburan musim semi di Melbourne adalah mengunjungi tulip festival yang hanya dibuka ketika musim semi tiba yaitu sekitar pertengahan bulan September hingga pertengahan Oktober. Tulip Festival terletak di Silvan rd yang bisa ditempuh selama hampir 2 jam perjalanan dari Melbourne city. Ketersediaan public transpot hingga ketempat tujuan membuat banyak pengunjung yang datang menikmati keindahan bunga tulip di sini, terutama pada akhir pekan. Festival dibuka setiap harinya dari jam 9 am sampai jam 5pm, dengan tiket masuk $16 untuk dewasa dan gratis untuk anak-anak dibawah usia 14 tahun. Menurut brosur yang diberikan, ada lebih dari 100 jenis tulip yang ditampilkan di sini.
Diluar perkiraan kami, ternyata hujan gerimis menyambut kedatangan kami siang itu. Meskipun demikian, tidak menyurutkan keinginan kami untuk menikmati indahnya bunga tulip. Begitu juga dengan pengunjung yang lain, ada yang memang sudah mempersipkan diri dengan membawa payung, topi atau jaket, ada juga yang terlihat memakai jas hujan yang dibeli di sini. Banyaknya pengunjung yang datang membuat kami harus menunggu antrian untuk mendapatkan tiket. Setelah mendapatkan tiket dan brosur/visitor guide kami menuju pintu masuk yang disambut oleh petugas yang berpakaian khas tradisional Belanda. Berdasarkan brosur tersebut, ada 22 points of interest yang disarankan untuk dikunjungi. Setelah melewati pintu masuk kami memilih menikmati wisata disisi sebelah kanan terlebih dahulu. Di sini kita bisa menikmati area tanaman tulip beraneka warna yang luas membentang dan tumbuh subur. Area tanaman tulip dibuat berpetak-petak dengan jarak kurang lebih sekitar 3 meter antar petak yang bisa dilewati oleh pengunjung. Setiap petak ditanami dengan beberapa jenis tulip yang memiliki warna yang berbeda secara berkelompok.
Pengunjung yang ingin menikmati keindahan tulip dari ketinggian, dapat naik helikopter yang terbang rendah dan berputar-putar disekitar area dengan harga tiket $35 per-orang selama kurang lebih 15 menit. Setelah semua petak di area tulip dikunjungi, kami melanjutkan perjalanan ke sisi sebelah kiri. Tidak kalah menariknya, disini kita juga bisa menikmati indahnya berbagai macam jenis dan warna bunga tulip, pertunjukkan music jazz, stand-stand yang menjual berbagai macam makanan seperti ice cream, potato, coklat dan poffertjes, dan juga ada aneka souvenir yang dapat dibeli di gift shop. Di area ini ditampilkan beberapa hal yang berkaitan dengan negeri Belanda, seperti tulisan-tulisan dalam bahasa Belanda, kincir angin dan stand makanan poffertjes. Menariknya, di sini ada juga sumur yang tidak terlalu dalam yang digunakan orang untuk menyampaikan keinginannya (nggak tahu sekarang masih atau nggak). Untuk setiap keinginan yang disampaikan, orang harus melemparkan coin dalam jumlah tertentu kedalam sumur. Nggak nyangka ternyata wong londo juga percaya hal-hal seperti ini. Selain itu, pengunjung juga bisa membeli bibit tanaman tulip yang ditanam di pot dengan harga $6.50 per pot nya.
Setelah semua tempat dikunjungi, kami pun besiap-siap pulang sesuai dengan jadwal yang sudah direncanakan. Kami kembali ke stasiun kereta menggunakan bus yang ada setiap 1 jam sekali. Hujan gerimis sudah berhenti, cuaca yang bersahabat mengiringi kepulangan kami hari itu.
Kemudian acara dilanjutkan di dalam ruangan konjen. Acara dimulai dengan mendengarkan gamelan yang dimainkan oleh sebagian besar orang Australia. Kita patut berbangga hati karena banyak orang yang tertarik dengan budaya Indonesia. Acara dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng oleh bapak Budiarman dan pengumuman pemenang juara lomba yang diikuti oleh warga Indonesia diantaranya adalah lomba catur, gaple, golf, tenis dan lalin-lain. Dan yang paling menegangkan adalah ketika diundi kupon yang berhadiahkan tiket Melbourne-Jakarta dari Garuda Indonesia untuk 2 orang. Kemudian yang tak kalah menariknya adalah pertunjukkan tari Jaipong yang mendapat tepuk tangan yang meriah dari penonton dan acara pun dilanjutkan dengan penampilan kembali kelompok gamelan.
Mencari tempat tinggal di Melbourne memang gampang-gampang sulit. Gampang karena umumnya tempat tinggal yang disewakan terdaftar diperusahaan agen rumah dan datanya dapat dilihat di internet. Sulit karena permintaan sewa rumah lebih tinggi dibandingkan dengan ketersediaan rumah, terutama yang berada disekitar kota. Tidak jarang sebuah rumah diperebutkan oleh 40an orang pendaftar, sehingga peluang memperolehnya juga kecil. Ini pula yang memicu harga sewa rumah menjadi semakin tinggi. Sebagai perbandingan kasar, harga sewa per bulan sebuah flat 1 kamar tidur di Melbourne yang lokasinya kira-kira 5 km dari pusat kota sama dengan harga sebuah netbook baru dengan sistem operasi windows. Pertimbangan harga sewa ini pula yang banyak menjadi dasar pemilihan tempat tinggal, terutama bagi para pelajar yang berkeluarga. Karena kesulitan mendapat tempat tinggal, maka tidak jarang sebuah rumah atau flat dengan 2 kamar tidur dipakai bersama oleh 2 keluarga.
bebas bercerita apa yang diketahuinya.


