Oleh: Farin's mum | Agustus 26, 2010

MY JOB

I work in the Queen Victoria Market every Tuesday and Friday. I work as a shopkeeper in a shop which sells t-shirt, sweaters and jackets for kids and adults. The Queen Victoria Market opens every Tuesday and Thursday(9am-2pm), Friday and Saturday (9am-3pm) and Sunday (9am-4pm). However I must arrive 30 minutes earlier and go home 30 minutes after the shop is closed.

On Friday, my stall is in L line. Next to my shop is the jewellery shop on the left side, the bag shop on the right side and the shoes and souvenir shop opposite my shop.

I like this job because:

- I have a nice and friendly boss, sometimes my boss comes to help me, if I have a lot of t-shirt to fold.

- I can meet people who come from other countries such as India, Malaysia, Singapore, Indonesia, and some countries in Europe and Middle East. Most costumers of the shop are from Malaysia, Singapore and Indonesia, so we can talk in Indonesian or Malay. Many costumers ask for discounts when they shop. But I can’t give them a discounted price if they only buy a few t-shirt. I can reduce the price if they buy ten or more t-shirt. For every ten t-shirt I can give one t-shirt for free.

- As shop keepers we like to help each other. For example if I want to go to toilet, I will ask another shop keeper to look after my shop; and so do others. Furthmore, it is normal for us to change money if we don’t have change or small money to return to customers.

Oleh: Farin's mum | Juli 12, 2010

Farin’s mum berbagi cerita

Ingin menjadi seorang ibu rumah tangga atau ibu bekerja bukanlah sesuatu yang pernah aku rencanakan sebelum menikah. Ya, semua alur kehidupan ini dijalani saja seperti air yang mengalir. Setelah menikah aku benar-benar merasakan hidup baru yang sebenar-benarnya, karena memang semuanya serba baru yaitu: hidup terpisah dari orang tua dan saudara kandung, pindah rumah dari rumah orang tua di Depok ke rumah suami di Semarang dan dari seseorang yang sibuk bekerja diluar rumah menjadi orang yang sibuk bekerja mengurus rumah. Karena pindah kelain kota itulah maka saya tidak berminat untuk mencari pekerjaan baru, terlebih lagi setelah mempunyai anak, sangat sulit sekali rasanya berpisah walau hanya dalam hitungan menit. Ya, ternyata kedua anakku telah menyita waktu dan perhatianku, apalagi jarak usia mereka yang hanya terpaut 23 bulan. Jadi hari-hariku selalu dilalui dengan aktifitas yang sangat sibuk dan menyenangkan.

Meskipun demikian, kadangkala rasa bosan melanda jiwa. Ingin rasanya mempunyai waktu luang untuk memanjakan diri sendiri atau sedikit terbebas dari rutinitas, tapi kembali lagi mengingat bahwa apabila kita ikhlas dalam menjalankan suatu pekerjaan akan banyak sekali pahala yang  diperoleh. Maka acara-acara dilingkungan tempat tinggal seperti: arisan pkk, pengajian dan bergabung dengan suatu organisasi bisa menjadi alternatif  saya untuk  menghilangkan kejenuhan, bersosialisasi, bertukar pikiran dengan teman-teman dan lain-lain.

Hari demi hari pun terlewati tahun berganti, tak terasa kedua anakku kini sudah memasuki usia sekolah. Sudah di rencanakan bahwa aku akan kembali menyibukkan diri di luar rumah bila kedua anakku sudah sekolah. Walaupun masih memperhitungkan waktu kerja yang kira-kira tidak akan menyita waktuku terlalu lama. Setelah berdiskusi sedikit dengan suami, akhirnya saya bisa kembali bekerja setelah  6,5 tahun menjadi ibu rumah tangga full time. Ya, karena anak-anaku kini sudah mempunyai “dunia” baru disekolahnya, maka saya juga ingin mempunyai “dunia” baru dilingkungan tempat kerja. Untuk beberapa jam kami berpisah setelah itu kami kembali berkumpul di “dunia” kami untuk saling menceritakan pengalaman kami hari itu.

Oleh: Farin's mum | April 1, 2010

Werribee Park

Salah satu acara jalan-jalan di Autumn season ini adalah mengunjungi Werribee Park. Werribee Park adalah sebuah rumah besar dengan halaman yang sangat luas yang merupakan warisan sejarah kebudayaan Australia. Lokasinya terletak di K Road Werribee, Victoria, yang bisa ditempuh sekitar 30 menit dari Melbourne City. Untuk tiba di Werribee Park, bisa dengan menggunakan kereta tujuan Werribee dari Flinders Street Station. Setelah sampai stasiun terakhir (Werribee), kemudian dilanjutkan dengan menggunakan bus 429, turun di stop terakhir. Perjalanan dengan bus ini melewati areal pertanian yang subur disebelah kanan dan kirinya dengan sistem penyiraman tanaman melalui kran yang airnya bisa berputar mengalir sehingga tidak perlu menggunakan tenaga manusia lagi untuk menyiramnya.

Untuk mendapatkan tiket saya tidak perlu mengantri karena tidak banyak pengunjung yang datang pada hari itu. Harga tiket untuk anak-anak diatas 4 tahun sebesar 7 AUD, dewasa sebesar 12.50 AUD dan ada harga khusus untuk pemegang student card yaitu sebesar 8 AUD, karena saya tidak mempunyai student card maka saya membayar 4.50 AUD lebih mahal dari yang mempunyai student card, sayang sekali ya…

Setelah membeli tiket, sebelum masuk area Werribee Park tidak lupa saya mengambil brosur-brosur yang tersedia yaitu Werribee Park Visitor Guide, Werribee Park Visitor Map dan Victoria State Rose Garden. Setelah berjalan masuk sekitar 5 menit saya dihamparkan pemandangan berupa kebun bunga yang indah membentuk sebuah lingkaran besar dengan taman kecil ditengahnya (Parterre). Setelah puas mengambil foto, kemudian saya menuju bangunan megah mansion dengan cafe dan giftshop disisi sebelah kiri dan reception centre disebelah kanannya.

Mansion itu terdiri dari 2 lantai, kemudian dari lantai 2 ada tangga lagi untuk ke menara (tower), tetapi tangga itu dibatasi dengan tali yang menandakan bahwa kita tidak boleh naik ke Tower, sepertinya untuk bisa ke Tower itu harus didampingi oleh pemandu wisatanya. Mansion yang bergaya Eropa itu banyak sekali ruangannya, setiap ruangan dipisahkan dengan pintu. Dilantai dasar ada dapur, ruang tamu dan ruang makan yang jumlahnya lebih dari satu. Sedangkan dilantai atas ada beberapa ruang tidur dan ruang perpustakaan. Ruang tamu, ruang makan dan ruang tidur dibatasi dengan pagar sehingga kita hanya bisa melihat dari batas pagar tersebut. Nah di ruang perpustakaan ini disediakan sarana aktifitas anak-anak untuk membuat topeng. Untuk itu sudah tersedia kertas bergambar, pinsil warna, lem,gunting, tali, dan sticky tape.

Selain di ruang perpustakaan, dilantai atas ini ada juga ruangan khusus yang menyediakan kostum-kostum orang Eropa jaman dulu, mulai dari baju anak-anak, dewasa, hingga baju untuk ibu dan bapak. Semua baju itu bisa dipakai dengan gratis, tapi hanya pada hari Sabtu. Di tempat itu ada juga 2 orang pemandu yang kira-kira berusia 70-80an tahun tetapi masih tampak sehat. Terlihat sekali bahwa mereka benar-benar membantu dengan senang hati mulai dari memilih baju dan topi, cara memakainya hingga cara bergaya ketika akan di foto. Bahkan ketika ada teman saya yang membantu mereka, mereka menolak dan mengatakan bahwa ini adalah tugas kami dan kamu datang kesini untuk bersenang-senang. Mereka berdua adalah volunteer yang datang hanya hari Sabtu saja.

Puas memasuki semua ruangan di dalam mansion, acara jalan-jalan dilanjutkan dengan istirahat sekaligus makan siang di bawah pohon rindang dekat danau. Pemandangan semakin indah dengan burung-burung yang beterbangan disekitar danau dan cuaca yang mendukung, tidak terlalu panas atau dingin.

Setelah beristirahat, dilanjutkan dengan menikmati keindahan bunga mawar di Victoria State Rose Garden. Area pohon mawar secara keseluruhan membentuk bunga mawar raksasa yang terdiri dari 5 kelopak bunga (petals). Setiap petal ditanami dengan bunga mawar yang berbeda warnanya dan diselingi dengan jalan setapak dan tempat duduk panjang. Lebih dari 5000 bunga mawar aneka warna mekar dari bulan November sampai April. Beruntung sekali meskipun sudah banyak bunga yang layu tapi saya masih bisa menikmati keindahan taman mawar, berjalan memutari setiap petal dan memfoto bunga mawar yang masih tampak segar.

Akhirnya jalan-jalan ke Werribee park harus berakhir karena jadwal bus terakhir akan segera tiba. Sebenarnya masih banyak objek yang belum saya kunjungi seperti formal garden, sculpture walk, riverine dan farm. Sepertinya memerlukan waktu 2 hari untuk bisa menikmati semua objek wisata di Werribee park ini.

Oleh: Farin's mum | Maret 21, 2010

Mengisi Liburan “summer holidays”

Liburan kenaikan kelas di Melbourne selama 6 minggu berlangsung dari pertengahan bulan Desember hingga  Januari. Libur yang cukup lama bukan? Sebelum libur saya agak bingung juga kira-kira apa ya yang bisa membuat anak-anak bisa mengisi liburan yang tidak membuat mereka bosan. Jalan-jalan untuk berekreasi tentu saja menjadi pilihan pertama, walaupun hanya 1 atau 2 hari saja.  Salah satu objek wisata yang kami kunjungi ialah Warnambool karena dari hasil mencari informasi di internet tempat ini mempunyai pantai dan playground yang dekat dengan stasiun hingga tidak terlalu merepotkan kami yang membawa 2 anak usia 7 dan 5 tahun ini. Untuk sampai ke Warnambool memerlukan  waktu selama 3 jam dari Melbourne City dengan menggunakan V/line train. Kami yang tinggal di Melbourne ini sangat beruntung karena setiap tanggal 25 Desember bisa menikmati angkutan umum gratis untuk bepergian dalam kota atau pun ke luar kota Melbourne. Karena banyak sekali orang-orang yang ingin bepergian maka kita harus memesan tiket jauh-jauh hari untuk tujuan ke luar kota Melbourne. Empat hari sebelum hari H kami memesan 4 tiket ke Warnambool, tapi ternyata tiket sudah tidak tersedia.  Tapi, 2 hari sebelum hari H kami mencari informasi lagi ternyata di umumkan kalo kereta tujuan Warnambool diberikan satu gerbong tambahan sehingga masih ada tiket bila ingin memesan, tanpa berpikir dua kali kami langsung datang ke stasiun untuk memesan tiket. Rejeki memang tidak kemana-mana, Alhamdulillah…

Selain tanggal 25 December, angkutan umum juga digratiskan setiap tanggal 31 Desember setelah jam 6 sore. Ini tentunya dimaksudkan untuk memberikan kesempatan bagi warga untuk memikmati malam pergantian tahun. Mungkin hal seperti ini bisa ditiru oleh pemerintah daerah di Indonesia. Kayaknya seru juga kalo angkutan umum digratiskan saat lebaran.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, di Melbourne city acara pergantian tahun ditandai dengan atraksi kembang api yang dinyalakan 2 kali, yaitu jam 9.15 pm untuk family dan tepat jam 12.00 untuk dewasa. Kami memilih yang pertama (jam 9.15 pm), karena selain tidak terlalu malam, biasanya ada pertunjukan untuk anak-anak.

Selain rekreasi untuk mengisi libur sekolah, saya juga bertekad supaya anak-anak bisa naik sepeda pada liburan ini. Tujuan saya agar mereka bisa bersepeda ke sekolah. Karena sudah masuk summer, dimana cuaca menjadi cukup panas, saya melatih anak-anak bersepeda sekitar jam 7 pm ketika matahari sudah tidak terlalu terik sinarnya. Latihannya di area parkir flat kami, dan cukup 30 menit saja untuk kedua anak saya. Tidak disangka, ternyata tidak sampai seminggu mereka dengan cepat sudah bisa menjaga keseimbangan sepeda tinggal melatih untuk belok kanan dan kiri, latihan menyebrang (look, listen, think) dan me-rem sepeda.

Alhamdulillah sekarang mereka sudah naik sepeda berangkat dan pulang sekolah. Ketika di sekolah ada program National ride2 school day mereka mendapat stiker dari gurunya yang berbunyi I Love My Bicycle. Dan sekarang setiap mengantar jemput anak sekolah saya pun “dipaksa” untuk berolahraga juga karena saya harus berlari mengejar mereka. Senang karena bisa cepat sampai tujuan, tapi setelah itu kaki saya pegal-pegal terutama bagian tulang keringnya yang terasa nyeri. Oh ternyata, hal inilah yang tidak saya pikirkan sebelumnya. Hikmahnya, saya memang harus banyak berolahraga…

Oleh: Farin's mum | Januari 9, 2010

2010

Tahun baru 2010, Yarra Park Melbourne

Selamat tahun baru 2010. Alhamdulillah segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam yang telah memberikan nikmat sehat walafiat dan nikmat usia sehingga masih bisa merasakan kehidupan di dunia yang hanya sementara ini.

Detik, menit, jam, hari, minggu, bulan dan tahun…waktu terus berputar dan tidak akan berhenti selama masih ada kehidupan di dunia ini. Waktu yang terus berjalan terasa sangat cepat, sehingga tanpa saya sadari tahun telah berganti.

Mengenang tahun baru sebelumnya (2009) ada beberapa hal yang benar-benar saya niatkan untuk mencapai keberhasilan selama satu tahun tersebut. Dan Alhamdulillah Allah memberikan banyak kemudahan bagi saya untuk mewujudkan keinginan itu. Dan saya juga berharap agar Allah tetap memberikan curahan rahmat dan kasih sayang-Nya sepanjang tahun 2010 ini.

Diawal tahun ini saya banyak sekali mendapatkan pencerahan dari buku Zero to Hero karya Solikhin Abu Izzudin. Ada satu tema yang banyak memberikan saya inspirasi dalam mewujudkan keinginan saya untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah di tahun 2010 ini.

Yaitu tentang Cita-Cita Dunia. Salah satu bentuk ungkapan cita-cita adalah doa. Doa itu adalah wajah cita-cita kita. Namun sudahkah kita menghayati cita-cita kita itu? Lalu tahukah kita apa sebenarnya yang kita citakan? Berikut ini ada beberapa  contoh cita-cita dunia dari buku Zero to Hero yang akan saya jadikan cita-cita saya di 2010 ini:

- Memiliki hati yang bersih.

- Mampu beribadah dengan baik dan benar sebagai rasa syukur dan membuka pintu-pintu kebaikan dan kebahagian yang lebih besar.

- Memiliki penghasilan yang cukup untuk memenuhi kehidupan sehari-hari dan menghindarkan diri dari kehinaan.

- Lisan yang selalu bersyukur.

- Dibebaskannya hati dari segala penyakit hati seperti iri, dengki, sombong dan prasangka buruk.

- Tulus dalam berbagi, berbakti, mengabdi dan memberi sehingga hati benar-benar memiliki kebaikan diri sebagai investasi dan tidak tamak dengan apa yang dimiliki orang lain.

- Mampu mengambil peluang-peluang kebaikan.

- Memiliki kemampuan mengambil hikmah dan ibrah dari setiap peristiwa

Itulah beberapa cita-cita dunia saya di tahun 2010 ini. Begitulah hdup itu adalah keniscayaan, kematian itu kepastian dan bercita-cita mulia itu adalah pilihan. Dan setiap pilihan ada resiko yang harus “dibayar”.

Wallahu ‘alam…

Oleh: Farin's mum | November 25, 2009

SAJAK

Oleh Dorothy Nolte:

Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki

Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi

Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah diri

Jika anak dibesarkan dengan penghinaan, ia belajar menyesali diri

Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri

Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri

Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baiknya perlakuan, ia belajar keadilan

Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan

Indah sekali sajak ini, semoga saya tidak hanya mengingat pesan yang disampaikan tetapi juga bisa mempraktekkan langsung dalam mendidik kedua anak saya. Amin.

Oleh: Farin's mum | Oktober 18, 2009

TULIP FESTIVAL

Salah satu alternatif liburan musim semi di Melbourne adalah mengunjungi tulip festival yang hanya dibuka ketika musim semi tiba yaitu sekitar pertengahan bulan September hingga pertengahan Oktober. Tulip Festival terletak di Silvan rd yang bisa ditempuh selama hampir 2 jam perjalanan dari Melbourne city. Ketersediaan public transpot hingga ketempat tujuan membuat banyak pengunjung yang datang menikmati keindahan bunga tulip di sini, terutama pada akhir pekan. Festival dibuka setiap harinya dari jam 9 am sampai jam 5pm, dengan tiket masuk $16 untuk dewasa dan gratis untuk anak-anak dibawah usia 14 tahun. Menurut brosur yang diberikan, ada lebih dari 100 jenis tulip yang ditampilkan di sini.

Diluar perkiraan kami, ternyata hujan gerimis menyambut kedatangan kami siang itu. Meskipun demikian, tidak menyurutkan keinginan kami untuk menikmati indahnya bunga tulip. Begitu juga dengan pengunjung yang lain, ada yang memang sudah mempersipkan diri dengan membawa payung, topi atau jaket, ada juga yang terlihat memakai jas hujan yang dibeli di sini. Banyaknya pengunjung yang datang membuat kami harus menunggu antrian untuk mendapatkan tiket. Setelah mendapatkan tiket dan brosur/visitor guide kami menuju pintu masuk yang disambut oleh petugas yang berpakaian khas tradisional Belanda. Berdasarkan brosur tersebut, ada 22 points of interest yang disarankan untuk dikunjungi. Setelah melewati pintu masuk kami memilih menikmati wisata disisi sebelah kanan terlebih dahulu. Di sini kita bisa menikmati area tanaman tulip beraneka warna yang luas membentang dan tumbuh subur. Area tanaman tulip dibuat berpetak-petak dengan jarak kurang lebih sekitar 3 meter antar petak yang bisa dilewati oleh pengunjung. Setiap petak ditanami dengan beberapa jenis tulip yang memiliki warna yang berbeda secara berkelompok.

Pengunjung yang ingin menikmati keindahan tulip dari ketinggian, dapat naik helikopter yang terbang rendah dan berputar-putar disekitar area dengan harga tiket $35 per-orang selama kurang lebih 15 menit. Setelah semua petak di area tulip dikunjungi, kami melanjutkan perjalanan ke sisi sebelah kiri. Tidak kalah menariknya, disini kita juga bisa menikmati indahnya berbagai macam jenis dan warna bunga tulip, pertunjukkan music jazz, stand-stand yang menjual berbagai macam makanan seperti ice cream, potato, coklat dan poffertjes, dan juga ada aneka souvenir yang dapat dibeli di gift shop. Di area ini ditampilkan beberapa hal yang berkaitan dengan negeri Belanda, seperti tulisan-tulisan dalam bahasa Belanda, kincir angin dan stand makanan poffertjes. Menariknya, di sini ada juga sumur yang tidak terlalu dalam yang digunakan orang untuk menyampaikan keinginannya (nggak tahu sekarang masih atau nggak). Untuk setiap keinginan yang disampaikan, orang harus melemparkan coin dalam jumlah tertentu kedalam sumur. Nggak nyangka ternyata wong londo juga percaya hal-hal seperti ini. Selain itu, pengunjung juga bisa membeli bibit tanaman tulip yang ditanam di pot dengan harga $6.50 per pot nya.

Setelah semua tempat dikunjungi, kami pun besiap-siap pulang sesuai dengan jadwal yang sudah direncanakan. Kami kembali ke stasiun kereta menggunakan bus yang ada setiap 1 jam sekali. Hujan gerimis sudah berhenti, cuaca yang bersahabat mengiringi kepulangan kami hari itu.

Oleh: Farin's mum | Agustus 28, 2009

HUT RI KE-64

Untuk memperingati HUT RI ke-64 kali ini, saya menyempatkan diri menghadiri upacara 17 Agustus di KJRI Melbourne. Sayang sekali saya terlambat tiba disana, perjalanan yang saya prediksikan hanya 1 jam ternyata tidak cukup. Tampak hadir bapak konsulat jendral RI dan pejabat konjen lainnya beserta istri/suami, warga Indonesia, dan banyak juga warga Australia, terutama para pelajar. Upacara sudah dimulai sejak pukul 10am dan ketika saya tiba acara sudah sampai pada pembacaan UUD 45 dilanjutkan dengan pidato pembina upacara oleh bapak Budiarman Bahar (sebagai bapak KONJEN untuk wilayah Victoria dan Tasmania), pembacaan doa, dan terakhir pengumuman-pengumuman tentang juara perlombaan yang diikuti oleh siswa-siswi primary schools, and secondary schools di Vicroria. Setelah itu maka berakhirlah upacara bendera 17 Agustus tahun 2009, dan upacara pun dibubarkan.

Setelah upacara selesai, paduan suara kembali beraksi menyanyikan lagu-lagu kebangsaan sebagai “hiburan wajib”. Banyak dari kami yang meluangkan waktu untuk mengambil foto disekitar area upacara yang berhiaskan bendera dan umbul-umbul merah putih. Setelah itu kami menuju tenda besar yang khusus menyediakan berbagai macam makanan. Sisi sebelah kiri adalah untuk konsumsi gratis yang sudah disediakan panitia. Sedangkan di sisi sebelah kanan, banyak makanan khas Indonesia seperti bakso, pempek, sate, gudeg dan lain-lain yang disediakan warga untuk diperjual belikan.

Nasi tumpengKemudian acara dilanjutkan di dalam ruangan konjen. Acara dimulai dengan mendengarkan gamelan yang dimainkan oleh sebagian besar orang Australia. Kita patut berbangga hati karena banyak orang yang tertarik dengan budaya Indonesia. Acara dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng oleh bapak Budiarman dan pengumuman pemenang juara lomba yang diikuti oleh warga Indonesia diantaranya adalah lomba catur, gaple, golf, tenis dan lalin-lain. Dan yang paling menegangkan adalah ketika diundi kupon yang berhadiahkan tiket Melbourne-Jakarta dari Garuda Indonesia untuk 2 orang. Kemudian yang tak kalah menariknya adalah pertunjukkan tari Jaipong yang mendapat tepuk tangan yang meriah dari penonton dan acara pun dilanjutkan dengan penampilan kembali kelompok gamelan.

Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 12 pm dan saya pun bersiap-siap untuk pulang dan sebelumnya tidak lupa membeli beberapa makanan khas Indonesia karena hanya pada acara-acara tertentu saja kita bisa membeli makanan khas Indonesia dengan berbagai pilihan.

Oleh: Farin's mum | Agustus 7, 2009

Rumah kami

living roomMencari tempat tinggal di Melbourne memang gampang-gampang sulit. Gampang karena umumnya tempat tinggal yang disewakan terdaftar diperusahaan agen rumah dan datanya dapat dilihat di internet. Sulit karena permintaan sewa rumah lebih tinggi dibandingkan dengan ketersediaan rumah, terutama yang berada disekitar kota. Tidak jarang sebuah rumah diperebutkan oleh 40an orang pendaftar, sehingga peluang memperolehnya juga kecil. Ini pula yang memicu harga sewa rumah menjadi semakin tinggi. Sebagai perbandingan kasar, harga sewa per bulan sebuah flat 1 kamar tidur di Melbourne yang lokasinya kira-kira 5 km dari pusat kota sama dengan harga sebuah netbook baru dengan sistem operasi windows. Pertimbangan harga sewa ini pula yang banyak menjadi dasar pemilihan tempat tinggal, terutama bagi para pelajar yang berkeluarga. Karena kesulitan mendapat tempat tinggal, maka tidak jarang sebuah rumah atau flat dengan 2 kamar tidur dipakai bersama oleh 2 keluarga.

Kami tinggal di sebuah flat di daerah Brunswick. Alhamdulillah, lokasi flat ini cukup strategis karena cukup dekat dengan pemberhentian bus dan stasiun kereta. Supermarket dan pasar juga dapat dijangkau dengan berjalan kaki. Selain itu di daerah brunswick ini juga banyak tersedia makanan halal, dari toko daging (halal butchers) sampai restaurants. Daerah brunswick ini memang banyak dihuni oleh komunitas muslim, yang terutama adalah imigran dari Turki. Ada juga sebuah toko buku/perpustakaan yang difungsikan sebagai masjid. Kami bersyukur bisa tinggal di daerah ini.

Tak terasa hampir dua tahun sudah kami tinggal di flat ini. Sebuah tempat tinggal yang terbilang kecil namun memiliki fasilitas cukup lengkap. Flat kami terletak di lantai 2, dengan satu pintu keluar. Flat memiliki sebuah kamar tidur yang sekaligus kami pakai untuk tempat sholat. Flat dilengkapi dengan sebuah dapur yang cukup sesak berisi sebuah kulkas besar, kompor listrik, dan washer untuk mencuci perlengkapan dapur. Menyambung dengan dapur terletak ruang tamu yang sebenarnya cukup luas tapi penuh berisi sofa, meja, rak buku, rak televisi dan radio. Karena terbatasnya tempat, ruang tamu ini juga tempat menaruh mainan anak-anak, dan sebagai ruang tidur kedua. Meskipun kecil, kamar mandi dan toilet ditempatkan terpisah. Kamar mandi dilengkapi dengan shower dan bathtube serta sebuah mesin cuci. Karena keterbatasan tempat juga maka terkadang kamar mandi juga sebagai tempat menaruh sepeda.

Sehari-hari rumah kecil kami ini terasa penuh dengan barang, tapi flat ini akan menjadi berbeda sekali apabila ada inspect dari agen setiap 6 bulan sekali. Ya, saya harus kerja bakti membersihkan semua ruangan setiap kali ada inspect. Ruangan harus bersih tanpa noda. Alhasil seminggu sebelum hari “h” saya sudah mulai kerja bakti dan saya merasa kalau saya belum pernah membersihkan rumah saya pribadi sampai bersih sekali seperti ini. Kekhawatiran selalu datang sebelum inspect dan berharap semoga sang agen puas dengan perawatan rumah kami sebagai penyewa flat. Kehawatiran ini bukan tanpa alasan, karena beberapa teman terpaksa dipotong uang jaminannya untuk membersihkan rumah, atau pada kasus lainnya harga sewa rumah dinaikan.

Pada tahun pertama sulit sekali untuk tinggal di flat ini disebabkan karena perbedaan yang signifikan dengan rumah yang kami tempati di Semarang. Karena flat yang kami tempati saat ini berada di lantai 2, keadaan ini sering diprotes oleh anak-anak. Hal inilah yang merenggut kebebasan mereka untuk berlari-lari atau lompat-lompatan di dalam rumah padahal untuk anak-anak usia 3 tahun keatas berlari dan melompat adalah hal yang sangat menyenangkan. Karena ruangannya yang terbatas juga maka saya merasa kurang nyaman apabila dipakai untuk pengajian dan bila ada teman yang datang berkunjung. Keadaan tetangga juga berbeda dengan waktu di Semarang. Meskipun ketika membuka pintu akan langsung berhadapan dengan pintu flat yang lain, namun terasa seperti tidak memiliki tetangga karena jarang sekali bertemu, dan bila bertemu hanya mengucapkan kata: “hello” atau “how are you?”.

Bagaimanapun, semuanya harus disyukuri. Dengan posisi flat yang di lantai 2, kami merasa aman karena kami bebas membuka jendela rumah yang besar setiap hari sehingga bisa langsung melihat keindahan alam. Di pagi hari, terlihat sang surya mulai nampak disambut dengan siulan burung-burung yang menyambut pagi dan bila di musim semi akan terlihat balon-balon udara berwarna-warni. Pada malam hari, langit dan benda-benda angkasa, bintang dan bulan menjadi pemandangan yang menakjubkan yang diselingi dengan kerlap-kerlip lampu pesawat terbang. Bila bulan purnama maka kamar menjadi terang bermandikan cahaya bulan, indah sekali membuat tidur semakin terlelap. Juga pemandangan yang tidak kalah indahnya bila pelangi muncul sesaat setelah hujan, anak-anak pun dengan riangnya menyanyikan lagu “… sing a rainbow sing a rainbow to you…” menambah kecerian keluarga kecil kami.

Keadaan ini berbeda dengan penghuni di lantai bawah yang sering menutup jendelanya karena khawatir terlihat orang dari luar. Subhanallah betapa kami sangat bersyukur atas segala nikmat-Mu.

Oleh: Farin's mum | Juli 25, 2009

Treasure Box

Hari Rabu yang lalu Arin kembali membawa treasure box dari sekolahnya di kindergarten untuk yang ketiga kalinya. Karena sudah untuk yang ketiga kalinya inilah maka Arin bingung sekali apa yang akan Dia show and tell untuk teman-temannya. Pertama Arin ingin menaruh mainan boneka kecilnya tetapi setelah beberapa saat kemudian diganti dengan mainan anjing kecil yang sedang berdiri dan bila ditekan bagian bawahnya maka anjing itu akan membungkuk, menarik sebenarnya tetapi setelah beberapa lama tidak jadi dimasukkan kedalam tresure box nya. Akhirnya koleksi mainan di dalam satu plastik pun dikeluarkan semua, tetapi ternyata Arin tidak juga mendapatkan ide mainan yang akan dibawa. Setelah merasa bingung akhirnya Arin menyerah dan menyerahkan ke Ummi apa yang akan dibawa, dan mulailah Ummi menawarkan beberapa koleksi mainan ada dice, mobil2an, frog yang funny pokoknya semua yang menarik untuk show and tell menurut Ummi tetapi ternyata tidak menurut Arin. Ya sudah akhirnya hari Rabu itu belum dapat ide apa yang akan dimasukkan ke treasure box nya.

Esok paginya sebelum berangkat sekolah giliran  Abi yang dapat tugas dari Arin. Mulailah Abi mencari benda-benda yang menarik seperti rumah-rumahan, buku cerita dan membuat boat dari kertas tapi Arin tidak berminat juga. Akhirnya Abi menawarkan gimana kalo Arin membawa foto yang lagi berdua sama mas Fais. Alhamdulillah akhirnya Arin mau.

Ya. Saya sangat senang sekali kalo Arin dapat giliran membawa Treasure box dari kindergarten yang berarti bahwa Arin mendapatkan kesempatan untuk show and tell didepan teman dan gurunya. Dia harus kedepan untuk mempresentasikan treasure box dengan menyebutkan ciri-ciri isi dari treasure box dan teman-teman menebak apa yang dibawa Arin, setelah itu diperlihatkanlah isi dari treasure box itu. Dengan adanya show and tell itu melatih keberanian anak-anak untuk tampil didepan dengan suasana yang menyenangkan sehingga tidak ada rasa malu ataupun rasa takut salah dalam mengungkapkan apa yang diketahui dari hal-hal yang paling disenangi anak-anak  sehingga anak-anakP1010031c bebas bercerita apa yang diketahuinya.

Presentasi didepan teman dan guru hal itulah yang paling menakutkan saya ketika sekolah dulu. Walaupun sudah mempersiapkan diri sebaik yang saya mampu tetapi pada gilirannya tetap saja tangan terasa dingin dan demam panggung, akhirnya materi yang sudah saya siapkan hanya setengahnya saja yang masih dikepala yang setengahnya lagi hilang entah kemana…

Saya berharap semoga Arin bisa terus memupuk keberaniannya untuk berani tampil didepan sampai besar nanti. Semoga…

Tulisan Sebelumnya »

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.